
Lima Bulan, Kumpulkan Tiga Award Internasional
Heni Rachmawati, Penemu Obat Lever dengan Sistem Bertarget
Seorang dosen farmasi ITB berhasil mengembangkan obat antifibrosis dengan sistem bertarget. Ini sebuah sumbangan berharga bagi pengobatan pasien fibrosis hati di seluruh dunia.
TIDAK mudah mencari keberadaan Heni Rachmawati di ITB. Sebab, di kalangan mahasiswa, nama Heni memang belum banyak dikenal. Maklum, sejak 2001, dia sudah berada di Belanda untuk mengambil program doktor di Universitas Groningen.
Di balik kesederhanaannya, ternyata dosen ITB itu baru saja menghasilkan karya spektakuler di bidang farmasi. Dia menemukan antifibrosis dengan sistem bertarget, obat untuk penyakit hati kronis yang salah satunya disebabkan infeksi hepatitis virus C.
Temuan Heni tersebut merupakan hasil riset disertasinya di salah satu universitas terkemuka di Negeri Kincir Angin itu. Judul disertasinya ialah The Design of A Liver-Selective Form of Interleukin-10: a New Strategy for The Treatment of Liver Fibrosis. ''Ini merupakan hal baru karena sebelumnya belum pernah ada,'' kata Heni saat ditemui di Kampus ITB kemarin.
Penemuannya itu direspons gembira oleh kalangan farmasi di berbagai negara. Bahkan, dengan karya fenomenal tersebut, perempuan kelahiran 12 Desember 1969 itu mendapat tiga penghargaan internasional secara beruntun. Pada Februari 2005, Heni mendapat penghargaan dari National Institutes of Health Amerika. ''Saya juga sudah diundang presentasi tentang temuan saya di sana,'' ujarnya.
Penghargaan berikutnya diperoleh Heni dari European Association for The Study of The Liver (EASL) Paris, Prancis, pada April 2005. Pada Juni 2005, Heni kembali meraih penghargaan atas temuannya itu dari International Society of Nephrology di Singapura.
Karena kesibukannya menghadiri undangan dari berbagai lembaga internasional, Heni baru 15 Juni lalu pulang ke Indonesia dan kembali aktif mengajar di ITB awal Juli lalu. ''Tapi, saya baru mengajar bulan Agustus untuk mata kuliah teknologi farmasi sediaan solida,'' kata perempuan yang menjadi dosen farmasi ITB sejak 1998 itu.
Seperti apa penemuan Heni itu? Menurutnya, awalnya, dia ingin mengambil penelitian tentang liposom (salah satu sistem penghantaran obat). Tetapi saat itu, yang paling siap adalah laboratorium tentang drug targeting. Apalagi dia terus didorong promotornya, Prof Klass Poelstra, guru besar bidang farmasi di University of Groningen.
Di dunia, fibrosis di hati menjadi penyebab kematian terbesar ke-8 setelah penyakit jantung, kanker, diabetes, gagal ginjal, dan sebagainya. ''Yang memprihatinkan, obatnya yang aman bagi manusia belum ditemukan,'' kata perempuan lulusan S-2 Farmasi ITB itu.
Food and Drug Administration (FDA) -semacam Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM)- di Amerika Serikat, misalnya, hingga saat ini belum mengeluarkan rekomendasi obat antifibrosis di hati yang aman bagi pasien.
Sekadar informasi, biasanya, setelah 15 tahun terindikasi hepatitis, pasien akan mengalami fibrosis (hepatitis kronis). Proses selanjutnya, pasien bisa mengalamai sirosis (hati berwarna kuning dan keras). Bila tidak mendapat pengobatan yang tepat dan baik, pasien berpotensi menderita hepatocarcinoma (kanker hati).
Kalau sudah demikian, lanjutnya, harus dilakukan pencangkokan hati. Nah, yang dilakukan Heni adalah mengembangkan terapi yang mampu menurunkan fibrosis di hati dan menghambat berkembangnya sirosis. Beberapa peneliti sebelumnya memang telah mencoba meneliti obat untuk penyakit ini, tapi belum menunjukkan hasil yang sempurna. Sebab, masih banyak menimbulkan efek samping yang sangat berbahaya.
Heni sebenarnya meneruskan penelitian pendahulunya dengan memodifikasi obat interleukin-10 atau IL-10. Ini merupakan protein berbobot molekul rendah (18.5 kDa) yang mempunyai profil farmakokinetik kurang baik untuk penyembuhan pasien yang sudah parah kondisinya. Sebab, waktu paruhnya dalam darah sangat rendah dan sangat cepat dikeluarkan dari tubuh melalui ginjal.
Heni memodifikasi IL-10 itu dengan Mannose 6 phosphate atau M6P, sebuah senyawa gula, yang merupakan ligan spesifik untuk reseptor yang banyak terdapat di hati. Bentuk yang dihasilkan dari modifikasi tersebut dinamakan M6P-IL-10.
''Jika disuntikkan ke pasien fibrosis hati, M6P-IL-10 akan cepat terkumpul di hati, dan hanya bagian kecil di organ lain sehingga dapat menekan efek samping pada organ lain tersebut,'' kata perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah, itu.
Untuk membuktikan temuannya tersebut, Heni mengujinya pada tikus. Ada empat kelompok tikus. Masing-masing grup terdiri atas lima tikus. Grup I adalah tikus yang diindikasi fibrosis dan dibiarkan tidak diobati. Grup kedua yakni tikus yang menderita fibrosis dan diberi suntikan IL-10.
Grup ketiga adalah tikus yang terindikasi fibrosis dan diberi M6P-IL-10. Dan grup keempat adalah tikus yang sehat. ''Suntikan IL-10 dan M6P-IL-10 diberikan selama tiga hari (dari hari ke-4 sampai hari ke-6 setelah tikus diinduksi fibrosis hati). Pada hari ketujuh, semua tikus pada ke-4 grup tersebut dikorbankan. Selanjutnya, hati dan darahnya diambil untuk diperiksa di lab,'' katanya.
Bagaimana hasilnya? Tikus-tikus di grup kedua dan ketiga -jika dibandingkan dengan grup pertama- mengalami peningkatan kesehatan. Dan antara grup kedua dan ketiga, ada perbedaan yang cukup bermakna. ''Peningkatan kesehatan tikus di grup ketiga jauh lebih baik daripada grup kedua,'' kata istri Ikhlasul Amal yang juga alumnus ITB itu.
Heni sangat yakin, obat tersebut juga efektif jika diberikan kepada manusia. Hanya, untuk mencobanya, membutuhkan proses yang tidak cepat. Harus mendapat izin dari berbagai pihak, terutama pihak kampusnya di Belanda. ''Ini bisa diberikan kepada penderita fibrosis atau bisa juga untuk pasien hepatitis akut untuk mencegah agar tidak menjadi fibrosis. Tapi, saya tidak berani menyebut keberhasilannya 100 persen. Tetap perlu studi lanjutan,'' katanya.
Untuk melakukan penelitian itu, Heni membutuhkan waktu 3,5 tahun, dari 2001 hingga Oktober 2004. Hasil penelitian tersebut disusun dalam sebuah disertasi. ''Saya dinyatakan lulus sebagai PhD pada Juni 2005,'' kata penggemar bulutangkis itu.
Saat kuliah di Belanda, suami dan kedua anaknya, Farras Rayhan, 9, dan Safira Prisya, 8, turut serta ke Belanda. Karena cukup lama di sana, Heni dan keluarganya juga fasih berbahasa Belanda. ''Anak-anak saya lebih pintar berbahasa Belanda daripada berbahasa Indonesia. Sekarang butuh penyesuaian untuk sekolah di Bandung,'' papar penerima beasiswa dari Islamic Development Bank (IDB) itu.
Bagi Heni, bukan hal yang mudah kuliah sambil mengasuh dua anak yang masih kecil-kecil. Meski hampir empat tahun berada di Eropa, Heni tetap memanjakan keluarganya dengan masakan Indonesia. ''Saya selalu masak sendiri. Mulai dari soto, opor, sambel goreng, dan sebagainya. Kami kurang cocok dengan masakan Belanda,'' ungkapnya.
Di tengah kesibukannya kuliah dan menjadi ibu rumah tangga, Heni juga sempat aktif di berbagai organisasi. Termasuk ikut PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia). ''Saya pernah juara badminton tunggal dan ganda putri antarpelajar Indonesia di sana. Waktu itu, kejuaraannya di kota Maastricht,'' katanya.
Bukan hanya dengan pelajar Indonesia, Heni juga aktif dalam organisasi pelajar asing di Belanda, yakni Foreign Guest Club. ''Kegiatannya mulai mengunjungi museum-museum hingga ice skating,'' kata lulusan pendidikan apoteker ITB, 1994, itu.
Tapi sukses besar Heni ini harus dilalui dengan cobaan yang tak kalah besarnya. Ibundanya tercinta, Ruslika, meninggal ketika studinya S3-nya baru separuh jalan. "Ibu saya meninggal dua tahun lalu sewaktu saya menyelesaikan S3 saya di Groningen. Almarhumah ibu saya adalah wanita sejati," tutur wanita muda berotak brilian ini. Ayahnya, Letkol G. Karsono, seorang purnawirawan TNI dan terakhir berkantor di Pangdam VII Diponegoro Semarang, juga telah lebih dulu meninggal.
Ayah ibu Heni tak sempat menyaksikan temuan puterinya yang bermanfaat bagi kemanusiaan ini. Namun jutaan manusia, terutama penderita fibrosis hati, kelak akan menyaksikannya dan merasakan manfaatnya
Ternyata kesuksesan itu tidak mesti muncul dari kalangan berada, namun dari kondisi penuh keterbatasan justru muncul anak-anak bangsa yang sukses. Hal ini dapat penulis ketahui dari kehidupan langsung keluarganya di Cempolorejo IV/16 Semarang yang terdiri dari 8 bersaudara (Agus, Tri Indiaswati,SH, Ir.Sri Wahyono, Sri Hastuti, SE, Heni R, PhD, Joko S, Budi, Supriyatno,ST) karena kebetulan penulis masih ada hubungan keluarga dengan beliau.
(dari berbagai sumber : Jawa Post, Pontianak Post, Detikinet, dan Heni Rachmawati, PhD)

4 comments:
semoga hasil temuannya bisa bermanfaat bagi umat manusia dan menjadi amal serta pahala yang mengalir terus pak
Salut buat bu Heni!... Eh... SMAne dulu di semarang juga?
Bu Heni dulu dr SMA 3 Semarang lulus th 1988, diterima PMDK ITB Farmasi, memang prestasi itu sudah dia miliki sejak dia masih SD, SMP, SMA bahkan sampai S3 hingga memperoleh Ph.D
wah selamat ya Bu Heni...
ikut bangga,
Post a Comment
Terimakasih anda telah berkomentar dengan santun ....